Kamis, 19 Desember 2013

KOMODO (HEWAN LANGKA)


KOMODO (HEWAN LANGKA)
Komodo, atau yang selengkapnya disebut biawak komodo (Varanus komodoensis[1]), adalah spesies kadal terbesar di dunia yang hidup di pulau Komodo, Rinca, Flores, Gili Motang, dan Gili Dasami di Nusa Tenggara.[2] Biawak ini oleh penduduk asli pulau Komodo juga disebut dengan nama setempat ora.[3]Termasuk anggota famili biawak Varanidae, dan klad Toxicofera, komodo merupakan kadal terbesar di dunia, dengan rata-rata panjang 2-3 m. Ukurannya yang besar ini berhubungan dengan gejala gigantisme pulau, yakni kecenderungan meraksasanya tubuh hewan-hewan tertentu yang hidup di pulau kecil terkait dengan tidak adanya mamalia karnivora di pulau tempat hidup komodo, dan laju metabolisme komodo yang kecil.[4][5] Karena besar tubuhnya, kadal ini menduduki posisi predator puncak yang mendominasi ekosistem tempatnya hidup. Komodo ditemukan oleh peneliti barat tahun 1910. Tubuhnya yang besar dan reputasinya yang mengerikan membuat mereka populer di kebun binatang. Habitat komodo di alam bebas telah menyusut akibat aktivitas manusia dan karenanya IUCN memasukkan komodo sebagai spesies yang rentan terhadap kepunahan. Biawak besar ini kini dilindungi di bawah peraturan pemerintah Indonesia dan sebuah taman nasional, yaitu Taman Nasional Komodo, didirikan untuk melindungi mereka.
Anatomi dan morfologi
Di alam bebas, komodo dewasa biasanya memiliki berat sekitar 70 kilogram,[7] namun komodo yang dipelihara di penangkaran sering memiliki bobot tubuh yang lebih besar. Spesimen liar terbesar yang pernah ada memiliki panjang sebesar 3.13 meter dan berat sekitar 166 kilogram, termasuk berat makanan yang belum dicerna di dalam perutnya.[8] Meski komodo tercatat sebagai kadal terbesar yang masih hidup, namun bukan yang terpanjang. Reputasi ini dipegang oleh biawak Papua (Varanus salvadorii). Komodo memiliki ekor yang sama panjang dengan tubuhnya, dan sekitar 60 buah gigi yang bergerigi tajam sepanjang sekitar 2.5 cm, yang kerap diganti.[10] Air liur komodo sering kali bercampur sedikit darah karena giginya hampir seluruhnya dilapisi jaringan gingiva dan jaringan ini tercabik selama makan.[11] Kondisi ini menciptakan lingkungan pertumbuhan yang ideal untuk bakteri mematikan yang hidup di mulut mereka. Komodo memiliki lidah yang panjang, berwarna kuning dan bercabang.[8] Komodo jantan lebih besar daripada komodo betina, dengan warna kulit dari abu-abu gelap sampai merah batu bata, sementara komodo betina lebih berwarna hijau buah zaitun, dan memiliki potongan kecil kuning pada tenggorokannya. Komodo muda lebih berwarna, dengan warna kuning, hijau dan putih pada latar belakang hitam.

Fisiologi

Komodo tak memiliki indera pendengaran, meski memiliki lubang telinga.[13] Biawak ini mampu melihat hingga sejauh 300 m, namun karena retinanya hanya memiliki sel kerucut, hewan ini agaknya tak begitu baik melihat di kegelapan malam. Komodo mampu membedakan warna namun tidak seberapa mampu membedakan obyek yang tak bergerak. Komodo menggunakan lidahnya untuk mendeteksi rasa dan mencium stimuli, seperti reptil lainnya, dengan indera vomeronasal memanfaatkan organ Jacobson, suatu kemampuan yang dapat membantu navigasi pada saat gelap.[15] Dengan bantuan angin dan kebiasaannya menelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri ketika berjalan, komodo dapat mendeteksi keberadaan daging bangkai sejauh 4—9.5 kilometer.[11] Lubang hidung komodo bukan merupakan alat penciuman yang baik karena mereka tidak memiliki sekat rongga badan.[16] Hewan ini tidak memiliki indra perasa di lidahnya, hanya ada sedikit ujung-ujung saraf perasa di bagian belakang tenggorokan. Sisik-sisik komodo, beberapa di antaranya diperkuat dengan tulang, memiliki sensor yang terhubung dengan saraf yang memfasilitasi rangsang sentuhan. Sisik-sisik di sekitar telinga, bibir, dagu dan tapak kaki memiliki tiga sensor rangsangan atau lebih. Komodo pernah dianggap tuli ketika penelitian mendapatkan bahwa bisikan, suara yang meningkat dan teriakan ternyata tidak mengakibatkan agitasi (gangguan) pada komodo liar. Hal ini terbantah kemudian ketika karyawan Kebun Binatang London ZSL, Joan Proctor melatih biawak untuk keluar makan dengan suaranya, bahkan juga ketika ia tidak terlihat oleh si biawak.[17]

Ekologi, perilaku dan cara hidup

Komodo secara alami hanya ditemui di Indonesia, di pulau Komodo, Flores dan Rinca dan beberapa pulau lainnya di Nusa Tenggara.[18] Hidup di padang rumput kering terbuka, sabana dan hutan tropis pada ketinggian rendah, biawak ini menyukai tempat panas dan kering ini. Mereka aktif pada siang hari, walaupun kadang-kadang aktif juga pada malam hari. Komodo adalah binatang yang penyendiri, berkumpul bersama hanya pada saat makan dan berkembang biak. Reptil besar ini dapat berlari cepat hingga 20 kilometer per jam pada jarak yang pendek; berenang dengan sangat baik dan mampu menyelam sedalam 4.5 meter;[19] serta pandai memanjat pohon menggunakan cakar mereka yang kuat.[7] Untuk menangkap mangsa yang berada di luar jangkauannya, komodo dapat berdiri dengan kaki belakangnya dan menggunakan ekornya sebagai penunjang.[17] Dengan bertambahnya umur, komodo lebih menggunakan cakarnya sebagai senjata, karena ukuran tubuhnya yang besar menyulitkannya memanjat pohon.
Untuk tempat berlindung, komodo menggali lubang selebar 1–3 meter dengan tungkai depan dan cakarnya yang kuat.[20] Karena besar tubuhnya dan kebiasaan tidur di dalam lubang, komodo dapat menjaga panas tubuhnya selama malam hari dan mengurangi waktu berjemur pada pagi selanjutnya.[21] Komodo umumnya berburu pada siang hingga sore hari, tetapi tetap berteduh selama bagian hari yang terpanas.[22] Tempat-tempat sembunyi komodo ini biasanya berada di daerah gumuk atau perbukitan dengan semilir angin laut, terbuka dari vegetasi, dan di sana-sini berserak kotoran hewan penghuninya. Tempat ini umumnya juga merupakan lokasi yang strategis untuk menyergap rusa.

Perilaku makan

Komodo adalah hewan karnivora. Walaupun mereka kebanyakan makan daging bangkai,[4] penelitian menunjukkan bahwa mereka juga berburu mangsa hidup dengan cara mengendap-endap diikuti dengan serangan tiba-tiba terhadap korbannya. Ketika mangsa itu tiba di dekat tempat sembunyi komodo, hewan ini segera menyerangnya pada sisi bawah tubuh atau tenggorokan.[11] Komodo dapat menemukan mangsanya dengan menggunakan penciumannya yang tajam, yang dapat menemukan binatang mati atau sekarat pada jarak hingga 9,5 kilometer.[11]Komodo muda di Rinca yang makan bangkai kerbau. Reptil purba ini makan dengan cara mencabik potongan besar daging dan lalu menelannya bulat-bulat sementara tungkai depannya menahan tubuh mangsanya. Untuk mangsa berukuran kecil hingga sebesar kambing, bisa jadi dagingnya dihabiskan sekali telan. Isi perut mangsa yang berupa tumbuhan biasanya dibiarkan tak disentuh.
 Air liur yang kemerahan dan keluar dalam jumlah banyak amat membantu komodo dalam menelan mangsanya. Meski demikian, proses menelan tetap memakan waktu yang panjang; 15–20 menit diperlukan untuk menelan seekor kambing. Komodo kadang-kadang berusaha mempercepat proses menelan itu dengan menekankan daging bangkai mangsanya ke sebatang pohon, agar karkas itu bisa masuk melewati kerongkongannya. Dan kadang-kadang pula upaya menekan itu begitu keras sehingga pohon itu menjadi rebah. Untuk menghindari agar tak tercekik ketika menelan, komodo bernapas melalui sebuah saluran kecil di bawah lidah, yang berhubungan langsung dengan paru-parunya.[11] Rahangnya yang dapat dikembangkan dengan leluasa, tengkoraknya yang lentur, dan lambungnya yang dapat melar luar biasa memungkinkan komodo menyantap mangsa yang besar, hingga sebesar 80% bobot tubuhnya sendiri dalam satu kali makan.[6][24]
Setelah makan, komodo berjalan menyeret tubuhnya yang kekenyangan mencari sinar matahari untuk berjemur dan mempercepat proses pencernaan. Kalau tidak, makanan itu dapat membusuk dalam perutnya dan meracuni tubuhnya sendiri. Dikarenakan metabolismenya yang lamban, komodo besar dapat bertahan dengan hanya makan 12 kali setahun atau kira-kira sekali sebulan. Setelah daging mangsanya tercerna, komodo memuntahkan sisa-sisa tanduk, rambut dan gigi mangsanya, dalam gumpalan-gumpalan bercampur dengan lendir berbau busuk, gumpalan mana dikenal sebagai gastric pellet. Setelah itu komodo menyapukan wajahnya ke tanah atau ke semak-semak untuk membersihkan sisa-sisa lendir yang masih menempel, perilaku yang menimbulkan dugaan bahwa komodo, sebagaimana halnya manusia, tidak menyukai bau ludahnya sendiri.
 Dalam kumpulan, komodo yang berukuran paling besar biasanya makan lebih dahulu, diikuti yang berukuran lebih kecil menurut hirarki. Jantan terbesar menunjukkan dominansinya melalui bahasa tubuh dan desisannya; yang disambut dengan bahasa yang sama oleh jantan-jantan lain yang lebih kecil untuk memperlihatkan pengakuannya atas kekuasaan itu. Komodo-komodo yang berukuran sama mungkin akan berkelahi mengadu kekuatan, dengan cara semacam gulat biawak, hingga salah satunya mengaku kalah dan mundur; meskipun adakalanya yang kalah dapat terbunuh dalam perkelahian dan dimangsa oleh si pemenang. Mangsa biawak komodo amat bervariasi, mencakup aneka avertebrata, reptil lain (termasuk pula komodo yang bertubuh lebih kecil), burung dan telurnya, mamalia kecil, monyet, babi hutan, kambing, rusa, kuda, dan kerbau. Komodo muda memangsa serangga, telur, cecak, dan mamalia kecil.[4][24] Kadang-kadang komodo juga memangsa manusia dan mayat yang digali dari lubang makam yang dangkal.[17] Kebiasaan ini menyebabkan penduduk pulau Komodo menghindari tanah berpasir dan memilih mengubur jenazah di tanah liat, serta menutupi atasnya dengan batu-batu agar tak dapat digali komodo.


Ada pula yang menduga bahwa komodo berevolusi untuk memangsa gajah kerdil Stegodon yang pernah hidup di Flores.[25] Komodo juga pernah teramati ketika mengejutkan dan menakuti rusa-rusa betina yang tengah hamil, dengan harapan agar keguguran dan bangkai janinnya dapat dimangsa, suatu perilaku yang juga didapati pada predator besar di Afrika. Karena tak memiliki sekat rongga badan, komodo tak dapat menghirup air atau menjilati air untuk minum (seperti kucing). Alih-alih, komodo ‘mencedok’ air dengan seluruh mulutnya, lalu mengangkat kepalanya agar air mengalir masuk ke perutnya.

Bisa dan bakteri

Pada akhir 2005, peneliti dari Universitas Melbourne, Australia, menyimpulkan bahwa biawak Perentie (Varanus giganteus) dan biawak-biawak lainnya, serta kadal-kadal dari suku Agamidae, kemungkinan memiliki semacam bisa. Selama ini diketahui bahwa luka-luka akibat gigitan hewan-hewan ini sangat rawan infeksi karena adanya bakteria yang hidup di mulut kadal-kadal ini, akan tetapi para peneliti ini menunjukkan bahwa efek langsung yang muncul pada luka-luka gigitan itu disebabkan oleh masuknya bisa berkekuatan menengah. Para peneliti ini telah mengamati luka-luka di tangan manusia akibat gigitan biawak Varanus varius, V. scalaris dan komodo, dan semuanya memperlihatkan reaksi yang serupa: bengkak secara cepat dalam beberapa menit, gangguan lokal dalam pembekuan darah, rasa sakit yang mencekam hingga ke siku, dengan beberapa gejala yang bertahan hingga beberapa jam kemudian. Sebuah kelenjar yang berisi bisa yang amat beracun telah berhasil diambil dari mulut seekor komodo di Kebun Binatang Singapura, dan meyakinkan para peneliti akan kandungan bisa yang dipunyai komodo[27].
Di samping mengandung bisa, air liur komodo juga memiliki aneka bakteri mematikan di dalamnya; lebih dari 28 bakteri Gram-negatif dan 29 Gram-positif telah diisolasi dari air liur ini.[28] Bakteri-bakteri tersebut menyebabkan septikemia pada korbannya. Jika gigitan komodo tidak langsung membunuh mangsa dan mangsa itu dapat melarikan diri, umumnya mangsa yang sial ini akan mati dalam waktu satu minggu akibat infeksi. Bakteri yang paling mematikan di air liur komodo agaknya adalah bakteri Pasteurella multocida yang sangat mematikan; diketahui melalui percobaan dengan tikus laboratorium.[29] Karena komodo nampaknya kebal terhadap mikrobanya sendiri, banyak penelitian dilakukan untuk mencari molekul antibakteri dengan harapan dapat digunakan untuk pengobatan manusia.

Reproduksi

Musim kawin terjadi antara bulan Mei dan Agustus, dan telur komodo diletakkan pada bulan September.[19] Selama periode ini, komodo jantan bertempur untuk mempertahankan betina dan teritorinya dengan cara "bergulat" dengan jantan lainnya sambil berdiri di atas kaki belakangnya. Komodo yang kalah akan terjatuh dan "terkunci" ke tanah. Kedua komodo jantan itu dapat muntah atau buang air besar ketika bersiap untuk bertempur. Pemenang pertarungan akan menjentikkan lidah panjangnya pada tubuh si betina untuk melihat penerimaan sang betina.[6] Komodo betina bersifat antagonis dan melawan dengan gigi dan cakar mereka selama awal fase berpasangan. Selanjutnya, jantan harus sepenuhnya mengendalikan betina selama bersetubuh agar tidak terluka. Perilaku lain yang diperlihatkan selama proses ini adalah jantan menggosokkan dagu mereka pada si betina, garukan keras di atas punggung dan menjilat.          Kopulasi terjadi ketika jantan memasukan salah satu hemipenisnya ke kloaka betina.[14] Komodo dapat bersifat monogamus dan membentuk "pasangan," suatu sifat yang langka untuk kadal. Betina akan meletakkan telurnya di lubang tanah, mengorek tebing bukit atau gundukan sarang burung gosong berkaki-jingga yang telah ditinggalkan. Komodo lebih suka menyimpan telur-telurnya di sarang yang telah ditinggalkan.[32] Sebuah sarang komodo rata-rata berisi 20 telur yang akan menetas setelah 7–8 bulan.[17] Betina berbaring di atas telur-telur itu untuk mengerami dan melindunginya sampai menetas di sekitar bulan April, pada akhir musim hujan ketika terdapat sangat banyak serangga. Proses penetasan adalah usaha melelahkan untuk anak komodo, yang keluar dari cangkang telur setelah menyobeknya dengan gigi telur yang akan tanggal setelah pekerjaan berat ini selesai. Setelah berhasil menyobek kulit telur, bayi komodo dapat berbaring di cangkang telur mereka untuk beberapa jam sebelum memulai menggali keluar sarang mereka. Ketika menetas, bayi-bayi ini tak seberapa berdaya dan dapat dimangsa oleh predator.
Komodo muda menghabiskan tahun-tahun pertamanya di atas pohon, tempat mereka relatif aman dari predator, termasuk dari komodo dewasa yang kanibal, yang sekitar 10% dari makanannya adalah biawak-biawak muda yang berhasil diburu.[17][33] Komodo membutuhkan tiga sampai lima tahun untuk menjadi dewasa, dan dapat hidup lebih dari 50 tahun. Di samping proses reproduksi yang normal, terdapat beberapa contoh kasus komodo betina menghasilkan anak tanpa kehadiran pejantan (partenogenesis), fenomena yang juga diketahui muncul pada beberapa spesies reptil lainnya seperti pada Cnemidophorus.[7]

Partenogenesis

Sungai, seekor komodo di Kebun Binatang London, telah bertelur pada awal tahun 2006 setelah dipisah dari jantan selama lebih dari dua tahun. Ilmuwan pada awalnya mengira bahwa komodo ini dapat menyimpan sperma beberapa lama hasil dari perkawinan dengan komodo jantan pada waktu sebelumnya, suatu adaptasi yang dikenal dengan istilah superfekundasi. Pada tanggal 20 Desember 2006, dilaporkan bahwa Flora, komodo yang hidup di Kebun Binatang Chester, Inggris adalah komodo kedua yang diketahui menghasilkan telur tanpa fertilisasi (pembuahan dari perkawinan). Ia mengeluarkan 11 telur, dan 7 di antaranya berhasil menetas. Peneliti dari Universitas Liverpool di Inggris utara melakukan tes genetika pada tiga telur yang gagal menetas setelah dipindah ke inkubator, dan terbukti bahwa Flora tidak memiliki kontak fisik dengan komodo jantan. Setelah temuan yang mengejutkan ini, pengujian lalu dilakukan terhadap telur-telur Sungai dan mendapatkan bahwa telur-telur itupun dihasilkan tanpa pembuahan dari luar.
Komodo memiliki sistem penentuan seks kromosomal ZW, bukan sistem penentuan seks XY. Keturunan Flora yang berkelamin jantan, menunjukkan terjadinya beberapa hal. Yalah bahwa telur Flora yang tidak dibuahi bersifat haploid pada mulanya dan kemudian menggandakan kromosomnya sendiri menjadi diploid; dan bahwa ia tidak menghasilkan telur diploid, sebagaimana bisa terjadi jika salah satu proses pembelahan-reduksi meiosis pada ovariumnya gagal. Ketika komodo betina (memiliki kromosom seks ZW) menghasilkan anak dengan cara ini, ia mewariskan hanya salah satu dari pasangan-pasangan kromosom yang dipunyainya, termasuk satu dari dua kromosom seksnya. Satu set kromosom tunggal ini kemudian diduplikasi dalam telur, yang berkembang secara partenogenetika. Telur yang menerima kromosom Z akan menjadi ZZ (jantan); dan yang menerima kromosom W akan menjadi WW dan gagal untuk berkembang. Diduga bahwa adaptasi reproduktif semacam ini memungkinkan seekor hewan betina memasuki sebuah relung ekologi yang terisolasi (seperti halnya pulau) dan dengan cara partenogenesis kemudian menghasilkan keturunan jantan. Melalui perkawinan dengan anaknya itu pada saat yang berikutnya hewan-hewan ini dapat membentuk populasi yang bereproduksi secara seksual, karena dapat menghasilkan keturunan jantan dan betina.[37] Meskipun adaptasi ini bersifat menguntungkan, kebun binatang perlu waspada kerena partenogenesis mungkin dapat mengurangi keragaman genetika.
Pada 31 Januari 2008, Kebun Binatang Sedgwick County di Wichita, Kansas menjadi kebun binatang yang pertama kali mendokumentasi partenogenesis pada komodo di Amerika. Kebun binatang ini memiliki dua komodo betina dewasa, yang salah satu di antaranya menghasilkan 17 butir telur pada 19-20 Mei 2007. Hanya dua telur yang diinkubasi dan ditetaskan karena persoalan ketersediaan ruang; yang pertama menetas pada 31 Januari 2008, diikuti oleh yang kedua pada 1 Februari. Kedua anak komodo itu berkelamin jantan.

Evolusi

Perkembangan evolusi komodo dimulai dengan marga Varanus, yang muncul di Asia sekitar 40 juta tahun yang silam dan lalu bermigrasi ke Australia. Sekitar 15 juta tahun yang lalu, pertemuan lempeng benua Australia dan Asia Tenggara memungkinkan para biawak bergerak menuju wilayah yang dikenal sebagai Indonesia sekarang. Komodo diyakini berevolusi dari nenek-moyang Australianya pada sekitar 4 juta tahun yang lampau, dan meluaskan wilayah persebarannya ke timur hingga sejauh Timor. Perubahan-perubahan tinggi muka laut semenjak zaman Es telah menjadikan agihan komodo terbatas pada wilayah sebarannya yang sekarang.

Penemuan

Komodo pertama kali didokumentasikan oleh orang Eropa pada tahun 1910. Namanya meluas setelah tahun 1912, ketika Peter Ouwens, direktur Museum Zoologi di Bogor, menerbitkan paper tentang komodo setelah menerima foto dan kulit reptil ini.[17][33] Nantinya, komodo adalah faktor pendorong dilakukannya ekspedisi ke pulau Komodo oleh W. Douglas Burden pada tahun 1926. Setelah kembali dengan 12 spesimen yang diawetkan dan 2 ekor komodo hidup, ekspedisi ini memberikan inspirasi untuk film King Kong tahun 1933.[42] W. Douglas Burden adalah orang yang pertama memberikan nama "Komodo dragon" kepada hewan ini.[22] Tiga dari spesimen komodo yang diperolehnya dibentuk kembali menjadi hewan pajangan dan hingga kini masih disimpan di Museum Sejarah Alam Amerika.[43]

Penelitian

Orang Belanda, karena menyadari berkurangnya jumlah hewan ini di alam bebas, melarang perburuan komodo dan membatasi jumlah hewan yang diambil untuk penelitian ilmiah. Ekspedisi komodo terhenti semasa Perang Dunia II, dan tak dilanjutkan sampai dengan tahun 1950an dan ‘60an tatkala dilakukan penelitian-penelitian terhadap perilaku makan, reproduksi dan temperatur tubuh komodo. Pada tahun-tahun itu, sebuah ekspedisi yang lain dirancang untuk meneliti komodo dalam jangka panjang. Tugas ini jatuh ke tangan keluarga Auffenberg, yang kemudian tinggal selama 11 bulan di Pulau Komodo pada tahun 1969. Selama masa itu, Walter Auffenberg dan Putra Sastrawan sebagai asistennya, berhasil menangkap dan menandai lebih dari 50 ekor komodo.[30] Hasil ekspedisi ini ternyata sangat berpengaruh terhadap meningkatnya penangkaran komodo.[2] Penelitian-penelitian yang berikutnya kemudian memberikan gambaran yang lebih terang dan jelas mengenai sifat-sifat alami komodo, sehingga para biolog seperti halnya Claudio Ciofi dapat melanjutkan kajian yang lebih mendalam.

Konservasi

Biawak komodo merupakan spesies yang rentan terhadap kepunahan, dan dikatagorikan sebagai spesies Rentan dalam daftar IUCN Red List.[45] Sekitar 4.000–5.000 ekor komodo diperkirakan masih hidup di alam liar. Populasi ini terbatas menyebar di pulau-pulau Rinca (1.300 ekor), Gili Motang (100), Gili Dasami (100), Komodo (1.700), dan Flores (mungkin sekitar 2.000 ekor).[2] Meski demikian, ada keprihatinan mengenai populasi ini karena diperkirakan dari semuanya itu hanya tinggal 350 ekor betina yang produktif dan dapat berbiak.[3] Bertolak dari kekhawatiran ini, pada tahun 1980 Pemerintah Indonesia menetapkan berdirinya Taman Nasional Komodo untuk melindungi populasi komodo dan ekosistemnya di beberapa pulau termasuk Komodo, Rinca, dan Padar.
Belakangan ditetapkan pula Cagar Alam Wae Wuul dan Wolo Tado di Pulau Flores untuk membantu pelestarian komodo.[44] Namun pada sisi yang lain, ada bukti-bukti yang menunjukkan bahwa komodo, setidaknya sebagian, telah terbiasa pada kehadiran manusia. Komodo-komodo ini terbiasa diberi makan karkas hewan ternak, sebagai atraksi untuk menarik turis pada beberapa lokasi kunjungan. Aktivitas vulkanis, gempa bumi, kerusakan habitat, kebakaran (populasi komodo di Pulau Padar hampir punah karena kebakaran alami[44]),[11] berkurangnya mangsa, meningkatnya pariwisata, dan perburuan gelap; semuanya menyumbang pada status rentan yang disandang komodo. CITES (the Convention on International Trade in Endangered Species) telah menetapkan bahwa perdagangan komodo, kulitnya, dan produk-produk lain dari hewan ini adalah ilegal. Meskipun jarang terjadi, komodo diketahui dapat membunuh manusia. Pada tanggal 4 Juni 2007, seekor komodo diketahui menyerang seorang anak laki-laki berumur delapan tahun. Anak ini kemudian meninggal karena perdarahan berat dari luka-lukanya. Ini adalah catatan pertama mengenai serangan yang berakibat kematian pada 33 tahun terakhir.

Penangkaran

Telah semenjak lama komodo menjadi tontonan yang menarik di berbagai kebun binatang, terutama karena ukuran tubuh dan reputasinya yang membuatnya begitu populer. Meski demikian hewan ini jarang dipunyai kebun binatang, karena komodo rentan terhadap infeksi dan penyakit akibat parasit, serta tak mudah berkembang biak. Komodo yang pertama dipertontonkan adalah pada Kebun Binatang Smithsonian pada tahun 1934, namun hewan ini hanya bertahan hidup selama dua tahun. Upaya-upaya untuk memelihara reptil ini terus dilanjutkan, namun usia binatang ini dalam tangkaran tak begitu panjang, rata-rata hanya 5 tahun di kebun binatang tersebut. Penelitian yang dilakukan oleh Walter Auffenberg di atas, yang hasilnya kemudian diterbitkan sebagai buku The Behavioral Ecology of the Komodo Monitor, pada akhirnya memungkinkan pemeliharaan dan pembiakan satwa langka ini di penangkaran.
Telah teramati bahwa banyak individu komodo yang dipelihara memperlihatkan perilaku yang jinak untuk jangka waktu tertentu. Dilaporkan pada banyak kali kejadian, bahwa para pawang berhasil membawa keluar komodo dari kandangnya untuk berinteraksi dengan pengunjung, termasuk pula anak-anak di antaranya, tanpa akibat yang membahayakan pengunjung. Komodo agaknya dapat mengenali orang satu persatu. Ruston Hartdegen dari Kebun Binatang Dallas melaporkan bahwa komodo-komodo yang dipeliharanya bereaksi berbeda apabila berhadapan dengan pawang yang biasa memeliharanya, dengan pawang lain yang kurang lebih sudah dikenal, atau dengan pawang yang sama sekali belum dikenal.
Penelitian terhadap komodo peliharaan membuktikan bahwa hewan ini senang bermain. Suatu kajian mengenai komodo yang mau mendorong sekop yang ditinggalkan oleh pawangnya, nyata-nyata memperlihatkan bahwa hewan itu tertarik pada suara yang ditimbulkan sekop ketika menggeser sepanjang permukaan yang berbatu. Seekor komodo betina muda di Kebun Binatang Nasional di Washington, D.C. senang meraih dan mengguncangkan aneka benda termasuk patung-patung, kaleng-kaleng minuman, lingkaran plastik, dan selimut. Komodo ini pun senang memasuk-masukkan kepalanya ke dalam kotak, sepatu, dan aneka obyek lainnya. Komodo tersebut bukan tak bisa membedakan benda-benda tadi dengan makanan; ia baru memakannya apabila benda-benda tadi dilumuri dengan darah tikus. Perilaku bermain-main ini dapat diperbandingkan dengan perilaku bermain mamalia. Catatan lain mengenai kesenangan bermain komodo didapat dari Universitas Tennessee. Seekor komodo muda yang diberi nama "Kraken" bermain dengan gelang-gelang plastik, sepatu, ember, dan kaleng, dengan cara mendorongnya, memukul-mukulnya, dan membawanya dengan mulutnya. Kraken memperlakukan benda-benda itu berbeda dengan apa yang menjadi makanannya, mendorong Gordon Burghardt –peneliti– menyimpulkan bahwa hewan-hewan ini telah mementahkan pandangan bahwa permainan semacam itu adalah “perilaku predator bermotif-pemangsaan”.
Komodo yang nampak jinak sekalipun dapat berperilaku agresif secara tak terduga, khususnya apabila teritorinya dilanggar oleh seseorang yang tak dikenalnya. Pada bulan Juni 2001, serangan seekor komodo menimbulkan luka-luka serius pada Phil Bronstein—editor eksekutif harian San Francisco Chronicle dan bekas suami Sharon Stone, seorang aktris Amerika terkenal—ketika ia memasuki kandang binatang itu atas undangan pawangnya. Bronstein digigit komodo itu di kakinya yang telanjang, setelah si pawang menyarankannya agar membuka sepatu putihnya, yang dikhawatirkan bisa memancing perhatian si komodo. Meski pria itu berhasil lolos, namun ia membutuhkan pembedahan untuk menyambung kembali tendon ototnya yang terluka.

Kamis, 28 November 2013



SOSIOLOGI
KEHIDUPAN REMAJA ZAMAN DULU DAN ZAMAN SEKARANG

D
I
S
U
S
U
N
OLEH
D. Lusyana Tampubolon
3133321031
Ekstensi A





JURUSAN SEJARAH 
FAKULTAS ILMU SOSIAL                                                                                                                                                                                                               UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
T.A. 2013



KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat-Nya saya dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik. Makalah ini merupakan bahan ajaran untuk menambah ilmu dalam mempelajari “Kehidupan Remaja Zaman Dulu dan Zaman Sekarang”. Makalah ini juga memuat tentang persamaan dan perbedaan antara remaja zaman dulu dan remaja zaman sekarang.        Saya sangat berharap makalah ini dapat membantu kita dalam proses belajar mengajar agar kita boleh semakin berkembang dan memiliki wawasan yang luas mengenai “Kehidupan Remaja Zaman Dulu dan Zaman Sekarang”. Dalam penulisan makalah ini masih terdapat banyak kekurangan. Untuk itu, saya mengharapkan   saran dan kritik yang membangun agar dapat menyempurnakan makalah ini.


                                                           

Medan, Oktober 2013


Penulis




DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR……………………………………………………………i
DAFTAR ISI………………………………………………..................................ii
BAB I PENDAHULUAN    
A.    Latar Belakang………………………………………………………..1
B.     Rumusan Masalah…………………………………………….............1
C.     Tujuan Pembelajaran………………………….....................................1
BAB II PEMBAHASAN
A.    Kehidupan Remaja Zaman Dulu dan Zaman Sekarang………………2
B.     Persamaan Remaja Zaman Dulu dan Zaman Sekarang………………3
C.     Perbedaan Remaja Dulu dan Zaman Sekarang……………………….5
D.    Karakteristik Remaja Zaman Dulu dan Zaman Sekarang…………...12
E.     Kebudayaan Remaja Zaman Dulu…………………………………...13
F.      Kebudayaan Remaja Zaman Sekarang………………………………14

BAB III PENUTUP
A.    Kesimpulan…………………………………………………………..16
B.     Saran…………………………………………………………………16
DAFTAR PUSTAKA






BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
              Kehidupan remaja zaman dulu dan zaman sekarang yang kita ketahui sangat jauh berbeda. Pengaruh lingkungan hingga sosialisasi menyebabkan remaja zaman dulu memiliki perbedaaan dengan remaja zaman sekarang. Perbedaan tersebut sangat jelas terlihat mulai dari makanan, pekerjaan, gaya hidup, percintaan, permainan, teknologi, fashion, bahasa, sosialisasi, dll. Dan perbedaan itu juga terlihat dari adanya kebudayaan remaja zaman dulu dan zaman sekarang. Selain perbedaan, ada juga hal yang bisa menjadi acuan untuk mengetahui  apakah kehidupan remaja zaman dulu dengan zaman sekarang memiliki kesamaaan, itulah yang disebut dengan persamaan remaja zaman dulu dan zaman sekarang. Bahkan kita juga akan mengetahui karakteristik remaja zaman dulu dan zaman sekarang.

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimanakah kehidupan remaja zaman dulu dan zaman sekarang?
2.      Apa persamaan dan perbedaan antara remaja zaman dulu dan zaman sekarang?
3.      Bagaimana kebudayaan remaja zaman dulu dan remaja sekarang?
4.      Apa saja karakteristik remaja zaman dulu dan zaman sekarang?

C.    Tujuan Masalah
1.      Mengetahui kehidupan remaja zaman dulu dan zaman sekarang.
2.      Mengetahui persamaan dan perbedaan anatar remaja zaman dulu dan remaja zaman sekarang.
3.      Mengetahui kebudayaan remaja zaman dulu dan zaman sekarang sehingga terlihat perbedaannya.
4.      Mengetahui karakteristik remaja zaman dulu dan zaman sekarang.
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Kehidupan Remaja Zaman Dulu dan Zaman Sekarang

v  Masa remaja mengalami rentang waktu sekitar 10 tahun, yang terbagi dalam tiga fase berikut ini:
1. Remaja awal (10-13 tahun).
2. Remaja tengah (14-17 tahun).
3.  Remaja akhir (18-21 tahun).

               Dalam sebuah survei terhadap 27.000 orang yang berusia 12 -- 19 tahun       
dari seluruh dunia, ditemukan bahwa generasi remaja masa kini dicirikan oleh beberapa hal:
1.      Sangat berpusat pada diri sendiri dan ingin memuaskan keinginannya tanpa pikir   panjang. Mereka terbiasa dengan musik keras, tato, dll. Mereka kurang dalam hal kepemimpinan, inisiatif, motivasi, dan komitmen. Bunuh diri yang banyak terjadi pada generasi ini menjadialasan yang diambil saat mereka mengalami situasi sulit.
2.      Mereka percaya bahwa kesuksesan tergantung pada diri mereka sendiri. Mencari kerja yang baik menjadi prioritas mereka.
3.      Dalam kehidupan yang sangat sulit, mereka merindukan keluarga sebagai tempat menghadapi kesulitan hidup.
4.      Mereka membutuhkan identifikasi pada kebutuhan pasar, seperti memakai sepatu atlet terkenal, minum Coca-Cola, dll..
5.      Remaja sekarang terbiasa berbelanja. Mereka membeli barang yang mereka inginkan, bukan yang dibutuhkan. Ironisnya, contoh ini mereka dapatkan dari orang tua dan pengaruh iklan yang luar biasa.
6.      Mereka sangat senang melakukan perjalanan dan petualangan, termasuk menjelajah lewat internet.
7.      Mereka senang mengoleksi CD, menonton televisi, "chatting", dll.. Akhirnya, kecanduan media. Di sisi lain, mereka adalah generasi yang sangat rindu untuk bisahidup senang dan bahagia.

v  Menjembatani Gap

            Salah satu penyebab utama konflik orang tua dan remaja adalah adanya perbedaan antargenerasi. Perbedaan ini melibatkan kepercayaan, emosi, dan pilihan-pilihan dalam hidup. Hal-hal ini telah menghasilkan salah pengertian, ketegangan, dan konflik antaranggota keluarga. Konflik dapat muncul dari segala macam isu. Mulai masalah memutuskan hal keuangan, memilih baju, model rambut, rekreasi, hal-hal religius, musik, makanan, atau masalah moral.

               Untuk mengatasi gap ini, ada tiga hal yang perlu kita lakukan.
1.      Memahami remaja. Kita belajar memberikan toleransi kepada remaja yang berbeda dengan kita, termasuk menerima dan memahami perbedaan pandangan.
2.      Menerima remaja apa adanya.
3.      Memaafkan remaja dengan cara selalu memberinya kesempatan kedua.

B.     Persamaan Remaja Zaman Dulu dan Zaman Sekarang
1.      Perubahan Fisik dan Mental
                     Terjadi pertumbuhan fisik yang cepat, yang dicirikan dengan       
Penambahan berat, perubahan konfigurasi anggota-anggota tubuh (mulai serasi dan pas), mematangnya organ-organ reproduksi, dan tumbuhnya tanda-tanda seksual sekunder seperti kumis dan jenggot pada pria, dan buah dada pada wanita.



Perubahan-perubahan hormonal ini diiringi dengan bertambahnya kepekaan perasaan remaja (lebih moody), meningginya rasa tertarik pada lawan jenis, dan meningkatnya level agresi (ingin atau senang berkelahi).
            Remaja putri yang matang lebih awal akan mengalami stres yang bertambah. Kalau dia terlihat gemuk, akan mengundang komentar dari teman-temannya dan mengganggu dirinya. Akibatnya, dia cenderung bergaul dengan kawan yang berusia di atasnya. Hal ini memperbesar kemungkinan ia akan merokok, minum alkohol, menggunakan obat terlarang, dan terlibat hubungan seks. Ia juga sering menghadapi konflik dengan orang tua. Hal ini membuatnya enggan bertanya pada orang tua. Pada masa ini, teman prianya mulai tertarik padanya. Padahal, ia belum siap menghadapi tekanan-tekanan ini.
            Ada bukti, pada masa ini mereka cenderung mengalami gangguan psikologis yang lebih banyak dibandingkan dengan remaja putri yang matang sesuai usianya, misalnya gangguan kecemasan, depresi, dan gangguan makan (semuanya tergolong gangguan internal).
2.      Kebutuhan untuk Diterima
                      Teman sebaya merupakan sumber harga diri terbesar bagi seorang remaja.     
Itulah sebabnya, mereka mudah terjebak pada teman. Misalnya, seorang anak yang alim di rumah atau rajin sekolah minggu terjebak minum dengan temannya, bahkan ke pelacuran. Karena itu, nilai iman yang ditanamkan sejak dini dapat mencegah dia terjerumus lebih dalam.




3.      Berpikir Logis
            Umumnya, remaja lebih mampu mengemukakan alasan untuk berargumentasi dengan orang tua karena mereka sudah bisa berpikir secara abstrak. Pertumbuhan intelektual yang cepat dan banyaknya informasi yang mereka terima, membuat anak remaja merasa diri lebih benar daripada orang tuanya.
4.      Senang dengan Teman Sebaya
            Remaja juga semakin dekat dengan teman sebayanya dan lebih mementingkan mereka. Mereka membangun persetujuan bersama yang sangat mereka pegang (pakaian, rambut, musik, dll.). Akibatnya, mereka lebih senang dengan orang yang menyetujui ide mereka.
5.      Menguji Nilai, Nasihat, dan Iman Orang Tua
            Mereka sangat bergumul dengan nilai-nilai orang tua mereka yang dianggap ortodoks. Orang tua yang bijak akan berusaha menjelaskan iman pribadinya tanpa sikap otoriter, kemudian mendorong anaknya untuk mencari dan memiliki keyakinan pribadi. Orang tua juga perlu memberikan kesempatan lewat dialog yang terus-menerus, agar iman dan sikap terhadap nilai-nilai yang benar terbentuk dalam diri anak. Tujuan orang tua bukanlah memberikan jawaban yang mudah, melainkan menguatkan anak untuk mencari jalan hidup mereka tanpa didikte.

C.    Perbedaan Remaja Dulu dan Zaman Sekarang
          Waktu berputar, tahun berganti, zaman pun berubah. Tidak ada yang abadi di dunia ini, setiap perubahan akan membawa dampak perubahan pada bidang lain. Yang abadi adalah perubahan itu sendiri. Dahulu begini, sekarang begitu, kalau dulu ini, sekarang itu. Perbedaan zaman membuat banyak perbedaan yang terjadi pada kehidupan generasi muda. Tidak mungkin kita menyamakan generasi muda zaman dahulu dan sekarang karena kondisinya saja sudah berbeda.
1.    Makanan
        Tidak ada makanan rekayasa genetika,tanpa bahan kimia, tidak ada pertanian intensif, tidak perlu label “Organik”. Makanan abad pertengahan lebih baik dari apa yang kita miliki saat ini, bahkan pernyataan di atas baru sedikit dari sebagian pernyataan yang lain. Makanan abad pertengahan ini tidak di hias dan penampilannya itu, orang-orang pertengahan abad ini mau memakan makananan hampir dua potong roti setiap hari, 8 oz daging atau ikan dengan ukuran seperti steak lalu di sertai dengan sayuran kacang, lobak, wortel, tiga pint bir. Di banding zaman sekarang kalorinya sekitar 2.700 kalori per hari sedangkan zaman dulu sekitar 3.500 sampai 4.000 kalori per hari .
2.      Pekerjaan
          Kalau zaman dulu tidak ada masalah dengan yang namanya pengangguran tidak seperti zaman sekarang,kalau seorang buruh dapat mengolah tanah . Kalau ada ahli dagang maka dapat pekerja menjalankan toko,dan begitu juga dengan berburu . Kapasitas zaman dulu kebanyakan laki-laki yang melakukan pekerjaan,jika ada yang tidak bisa bekerja biasanya cacat atau sakit maka orang itu dijaga oleh biarawati sukarela dan rahib atau keluarga sendiri yang merawat dengan keadaan memiliki cukup dana .
3.      Gaya Hidup
          Gaya hidup zaman dulu lebih baik maksudnya lebih sehat dan mudah, jika menjadi bangsawan makanannya makanan sehat, lezat dan bergizi sepanjang waktu dan akan di sibuki dengan kegiatan yang sangat banyak. Jika menjadi buruh maka akan bekerja selama bulan musim panas dan musim dingin untuk menunggu dan menikmati hasil panen setelah membayar pajak untuk pemilik tanah itu. Persyaratan sebagai seorang buruh diantaranya : membayar sepersepuluh hasil panen (gandum), melakukan beberapa pekerjaan aneh dengan kebalikannya bisa melakukan apa saja untuk ke inginan sendiri dengan tanah itu, menjamin tanah harus perlidungan dari penjahat dan menyediakan bahan makanan pada saat kelaparan. Akan menjadi sangat kaya apabila buruh tersebut melakukan dengan bijak dengan tanah lahan tersebut .
4.      Kejahatan
          Yang melakukan kejahatan akan di adili dan di eksekusi, yang melakukan kejahatan kecil di permalukan di depan publik atau di denda. Kalau di zaman sekarang kejahatan kecil di penjara sesuai dengan undang-undang hukum zaman sekarang .
5.      Uang
Pada abad pertengahan uang itu adalah uang maka kalau memiliki emas maka memiliki emas. Ekonomi zaman dulu di dasari pada produksi di gantikan dengan ekonomi yang di dasari pada sebuah banyak emas raja yang di keluarkan ke public.
6.      Keindahan
           Kelangsungan hidup banyak dari mereka karya seni yang mengajarkan kita banyak tentang sejarah permadani atau lukisan . Jika tidak memiliki akses ini,maka anda bisa melihat beberapa karya seni yang luar biasa dalam busana liturgis yang dikenakan oleh pendeta dalam misa setiap hari yang terbuat dari bahan tenunan dengan penambahan benang emas.
7.      Percintaan
      Beda jauh dengan zaman sekarang,zaman dulu di sebut dengan ksatria yang matang penuh antara usia 16 dan 20 . Ksatria bertugas atau melayani 40 hari satu tahun untuk junjungan mereka setelah itu mereka meghabiskan hari-hari di turnamen .
8.      Permainan
          Senang bermain digital online? Rasanya kamu akan betah berjam-jam menatap layar computer untuk melakukan games online, bahkan dengan pemain yang tidak kamu kenal di belahan dunia lain. Games online memang mengasyikkan, mengasah kita untuk bertindak cepat.
          Namun bila tidak dilakukan dengan bijak, akan membuat kamu ketagihan dan melupakan berbagai hal seperti pekerjaan rumah atau tugas kuliah. Bandingkan dengan zaman dahulu permainan di dominasi permainan fisik secara nyata seperti petak umpet, gobak sodor, atau lompat karet. Semua permainan tersebut melatih keterampilan, kerja sama, dan kecerdasan.
          Keduanya sama-sama bermain, namun teknologi mengubah permainan menjadi lebih canggih. Bila generasi sekarang lebih pintar karena teknologi, generasi zaman dahulu lebih tangkas.
9.      Teknologi
          Teknologi memegang peranan penting dalam perubahan generasi dahulu dan sekarang. Generasi sekarang sangat dimanjakan oleh teknologi, semua menjadi lebih mudah dengan adanya teknologi. Ingin mengerjakan PR dari sekolah? Tugas kuliah? Atau presentasi dari bos di kantor? Teknologi akan membantu dengan sangat mudah, internet siap dipakai kapan pun.
          Telepon tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi biasa, namun berubah menjadi sumber informasi, ajang eksistensi diri, bahkan sebagai hiburan. Bila mengenal televisi, maka generasi kini mengenal berbagai tekonologi mulai dari smartphone sampai tablet. Tidak gaul rasanya bila tidak menenteng teknologi tinggi ini ke mana-mana.
          Generasi sekarang jelas lebih pintar secara teknologi namun mereka pun memiliki tantangan sendiri untuk belajar dewasa memilih teknologi agar digunakan untuk kebaikan. Tidak setiap informasi yang diperoleh dari teknologi baik dan sesuai norma. Disinilah tantangan generasi sekarang dalam menyikapi teknologi.




10.  Fashion
          Generasi zaman dahulu cenderung tidak neko-neko dalam berpakaian, apa yang diberikan orang tua itulah yang dipakai. Namun generasi kini lebih menunjukkan kreativitas dan berani dalam berbusana. Banyak pilihan fashion yang modis namun tetap syar’I dan mengikuti adat timur.
          Hal ini dikarenakan lebih terbukanya dalam bergaul dengan kultur lain. Berbagai mode lintas budaya saling bertukar dan membawa perubahan. Perubahan ini jelas membawa warna sendiri dalam fashion, namun lagi-lagi generasi sekarang ditantang untuk dapat memfilter apa yang mereka lihat dan terapkan. Dunia semakin terbuka, namun akal harus tetap bijak.
11.  Bahasa
          Bahasa gaul tetap menjadi ciri khas generasi muda dari zaman ke zaman. Namun tampaknya generasi kini sangat kreatif dalam membuat bahasa gaul, hampir-hampir banyak yang tidak mengerti dengan bahasa generasi sekarang. Perpaduan huruf dengan angka sering mewarnai tulisan generasi sekarang dan kata-kata yang nyeleneh sering terdengar dalam obrolan. K4mu m3ng3rti, k4n? Mengerti? Ciyus? Miapah? Kamu pasti familiar dengan kalimat seperti itu, yang akan ditanggapi generasi dahulu dengan kerutan di kening.
12.  Sosialisasi
          Dalam bersosialisasi, generasi dahulu lebih banyak bertemu langsung. Mungkin beberapa sobat Lebaran yang masa kecilnya pada tahun 1990-an masih ingat setiap sore akan berkunjung ke rumah temannya untuk mengajak main bersama, memiliki sahabat pena, dan mengirim kartu ucapan entah itu Lebaran atau ulang tahun. Namun kini sosialisasi diakukan melalui media, bercengkrama di Twitter, mengucapkan ulang tahun di wall Facebook, atau asyik bercerita melalui BBM.
          Mana yang lebih baik? Tidak dapat dikatakan generasi muda sekarang lebih baik atau lebih buruk karena setiap perubahan kembali kepada kualitas pribadi masing-masing. Perubahan yang tidak diikuti dengan akhlak, sikap bijak, dan filter yang cerdas tidak akan membawa perubahan yang lebih baik, bila diikuti dengan kecerdasan, mental yang kuat, dan tetap santun, maka dipastikan kamu akan menjadi generasi muda yang kritis, berprestasi dan membanggakan. Tidak mudah memang menghadapi arus globalisasi dan teknologi yang menjamur, namun be good next generation all! Jangan skeptis terhadap perubahan, namun jangan pula mau terbawa arus.
13.  Mengenali Kekerasan
             Banyak kekerasan diberitakan di media bioskop, film, TV, lagu, novel, cergam, dll.. Anak remaja menyukai film laga yang penuh dengan kekerasan. Mereka tidak menyadari dampak langsung dan tidak langsung dari media karena dampak tersebut sudah terlalu biasa bagi mereka. Tidak jarang, mereka justru melihat langsung perkelahian antarsekolah/remaja. Jadi, tidaklah mengherankan jika semakin banyak anak remaja yang terlibat dalam tindak kekerasan dan pembunuhan.
14.  Keluarga yang Retak
             Sebanyak 4 dari 10 remaja Amerika (39 persen) hidup atau tinggal hanya dengan 1 orang tua saja. Dan, 8 dari 10 kasus ini, yang absen adalah ayah. Kaum sosiologis berkata, "Belum pernah keluarga begitu berubah. Semakin banyak wanita karier, orang tua tunggal, kawin cerai, pasangan tanpa anak, `kumpul kebo`, dan `pasangan homo` yang mengangkat anak."
            Keluarga masa kini sudah jarang hidup dalam keluarga batih ("extended family"), tetapi hanya pada keluarga inti. Di samping itu, keluarga makin jauh dengan tetangganya. Dulu, remaja kita bisa mengandalkan tetangga, gereja, atau keluarga batihnya. Namun sekarang, itu tidak bisa dilakukan lagi.

15.  Pengertian dan Informasi Tentang Seks
             Remaja masa kini tumbuh dalam sebuah dunia tanpa aturan seks. Bioskop, media cetak, TV, dan musik cenderung mengidentikkan seks dengan cinta. Media melukiskan seks sebagai bagian terpenting dari pacaran yang baik.
             Oleh sebab itu, tidaklah mengherankan jika semakin banyak remaja yang sangat aktif dalam melakukan hubungan seks. Remaja yang tidak aktif dalam melakukan aktivitas seksual malah menjadi bingung dan bertanya-tanya, "Apakah aku normal, ada apa dengan diriku?", "Apakah aku ada kekurangan yang penting?" Di pihak lain, dalam diri mereka yang aktif melakukan seks di luar pernikahan timbul perasaan bersalah.
                 Rata-rata anak remaja jaman sekarang itu ingin bergaul dengan siapa saja, dimana saja, dan kapan saja, sehingga ia terjerumus kedalam pergaulan itu, yang paling gampang itu biasanya bagi para laki-laki itu salah satunya adalah “ROKOK”, karena mudah di dapat dan kebanyakan orang laki-laki yang suka berkupul di sauatu tempat menghisap rokok. Lalu bagi para perempuan biasanya ia tidak mau gengsi terhadap lawan jenis atau teman yang di anggap saingannya, ia ingin tampil di depan lelaki untuk menarik perhatian, sehingga terlewat batas dan di lihat oleh orang dengan negative, gengsi dengan teman sejenis biasanya dari barang barang yang di pakainya, dia tidak ingin kalah oleh temannya itu sehingga menjadi saingan / saling memamer.
16.  Nilai-Nilai Moral dan Agama
Pada masa ini, kehidupan moral dan agama sudah bukan lagi hal penting. Remaja semakin sulit mendefinisikan moral dan agama. Dulu, remaja mudah membedakan mana bermoral dan yang tidak. Sekarang, batasannya sangat tipis.

             Bermoral atau tidak bukan lagi didasarkan pada Kitab Suci, melainkan pada pendapat orang lain. Remaja tumbuh pada nilai-nilai moral dan nilai kesucian. Mereka menganggap baik kalau kebanyakan temannya juga mengatakan bahwa itu baik. Jadi, nilai moral dan nilai baik sangat relatif.

D.    Karakteristik Remaja Zaman Dulu dan Zaman Sekarang
1.    Anak-anak dulu hanya bisa pegang dan hisap “Permen” berbentuk “Rokok” sedangkan anak-anak sekarang sudah hebat pegang dan hisap “Rokok”.
2.    Anak-anak dulu takut sama yang namanya “Jarum Suntik” sedangkan anak-anak sekarang sudah bisa “Nyuntik” sendiri (Narkoba).
3.    Anak-anak dulu pintar menyanyikan “Lagu Anak-Anak” sedangkan anak-anak sekarang lebih memilih menyanyikan “Lagu Percintaan”.
4.    Anak-anak dulu hnaya nonton “Film Unyil” sedangkan anak-anak sekarang tontonannya “Film Sinetron yang Tidak Menadidik”.
5.    Anak-anak dulu “Nonton BF” ngunmpet-ngumpet sedangkan anak-anak sekarang terang-terangan buat “Film BF”.
6.    Anak-anak dulu sangat “Tabu Membicarakan” sex sedangkan anak-anak sekarang sangat “Hebat Melakukan” sex.
7.    Anak-anak dulu “Mengerti Arti Pacaran” saat minimal SMP kelas 1 sedangkan anak-anak sekarang “Sudah Bisa Pacaran” sejak SD kelas 1.
8.    Anak-anak dulu menjadikan anak perempuan sebagai “Teman Sepermainan” sedangkan anak-anak sekarang anak perempuan sebagai “Korban Pemerkosaan”.
9.    Anak-anak dulu habis berkelahi kemudian “Berdamai” sedangkan anak-anak sekarang habis berkelahi kemudian “Membunuh”.
10.  Anak-anak dulu “Takut” sama “Guru” sedangkan anak-anak sekarang “Ditakuti” sama “Guru”.
11.  Anak-anak dulu hanya bisa “Diam” ketika dimarahi oleh orangtuanya sedangkan anak-anak sekarang bisanya “Melawan dan Tak Segan Menganiaya” Orangtuanya.
12.  Anak-anak dulu hanya bisa “Gigit Jari” bila permintaannya tidak dituruti sedangkan anak-anak sekarang akan “Mengamuk” apabila permintaannya tidak dituruti.
13.  Anak-anak dulu akan “Menagadu” kepada orangtua bila ada masalah berat sedangkan anak-anak sekarang “Memilih Jalan Pintas atau Bunuh Diri” hanya karena masalah kecil.
14.  Anak-anak dulu “Suka Malu-Malu” sedangkan anak-anak sekarang “Tidak Tahu Malu”, “Buat Malu”, dan “Malu-maluin”
15.  Anak-anak dulu “Menerima” bila diberikan baju model apa saja dari orangtua sedangkan anak-anak sekarang  “Suka Mengkritik” model baju yang orangtua berikan.
16.  Anak-anak dulu selalu mengucapkan “Terima Kasih” bila diberi sesuatu sedangkan anak-anak sekarang “Tidak Tahu Terima Kasih” terhadap apapun yang telah diberikan.

E.     Kebudayaan Remaja Zaman Dulu
                        Pada masa orang tua kita dulu, mereka diajari bagaimana bersikap   dan bertutur    kata. Seperti kebiasaan mencium tangan kepada orang yang          lebih tua umurnya. Hal seperti ini sering diajarkan oleh orang tua kepada             anaknya. Sampai sekarang pun masih banyak orang tua yang            mengajarkan sopan santun, adapt istiadat serta tata cara bersikap           yang    baik. Hal-hal seperti ini akan berdampak positif bagi para remaja, seperti             berikut :
1.      Tumbuhnya rasa hormat terhadap pada orang yang lebih tua dan kepada sesama remaja yang lainnya.
  1. Menjadikan remaja lebih maju dalam berpikir dan dapat bersikap lebih dewasa karena dari kebiasaan menghormati orang lain maka para remaja bisa bersikap lebih dewasa dalam berpikir.
F.     Kebudayaan Remaja Zaman Sekarang
            Arus globalisasi begitu cepat merasuk ke dalam masyarakat terutama di kalangan   muda. Pengaruh globalisasi tersebut telah membuat banyak anak muda kita kehilangan         kepribadian diri sebagai bangsa Indonesia. Hal ini ditunjukkan dengan gejala-gejala yang muncul dalam kehidupan sehari- hari anak muda sekarang. Dari cara berpakaian banyak remaja-remaja kita yang berdandan seperti selebritis yang cenderung ke budaya Barat. Padahal cara berpakaian tersebut jelas- jelas tidak sesuai dengan kebudayaan kita. Tak ketinggalan gaya rambut mereka dicat beraneka warna. Tidak banyak remaja yang mau melestarikan budaya bangsa dengan mengenakan pakaian yang sopan sesuai dengan kepribadian bangsa.
            Teknologi internet merupakan teknologi yang memberikan informasi tanpa batas    dan dapat diakses oleh siapa saja. Apa lagi bagi anak muda, internet sudah menjadi santapan mereka sehari- hari. Jika digunakan secara semestinya tentu akan memperoleh    manfaat yang berguna. Dan sekarang ini, banyak pelajar dan mahasiswa yang             menggunakan tidak semestinya. Misal untuk membuka situs-situs porno, bahkan sampai    terkena penipuan. Bukan hanya internet saja, ada lagi pegangan wajib mereka yaitu handphone, apalagi sekarang ini mulai muncul handphone yang bertekhnologi tinggi. Mereka justru berlomba-lomba untuk memilikinya, tapi kita lihat alat musik kebudayaan kita belum tentu mereka mengetahuinya. Hal ini jika kita lihat dari segi sosial, maka kepedulian terhadap masyarakat menjadi tidak ada karena mereka lebih memilih kesibukan dengan menggunakan handphone tersebut.
            Dilihat dari sikap, banyak anak muda yang tingkah lakunya tidak tahu sopan santun dan cenderung tidak peduli terhadap lingkungan. Karena globalisasi menganut       kebebasan dan keterbukaan sehingga mereka bertindak sesuka hati mereka.



Jika pengaruh-pengaruh di atas dibiarkan, mau apa jadinya generasi muda bangsa? Moral generasi bangsa menjadi rusak, timbul tindakan anarkhis antara golongan muda. Hubungannya dengan nilai jati diri akan berkurang karena tidak ada rasa cinta terhadap budaya bangsa sendiri dan rasa peduli terhadap masyarakat. Padahal generasi muda   adalah penerus masa depan bangsa. Apa akibatnya jika penerus bangsa tidak memiliki jati diri?
            Seperti contohnya pada kasus kecanduan Facebook atau FB. Dampak negatif        facebook semakin hari semakin terasa, meski pun para facebookers banyak yang tidak menyadari akan pengaruh negati facebook ini. Mungkin karena sudah kecanduan dengan yang namanya facebook. Tapi justru inilah yang berbahaya, yang tidak disadari. Buat  para remaja dan pelajar serta anak anak, kamu harus tahu apa saja dampak negatif dari facebook ini. Karena pengguna facebook di dominasi oleh para remaja usia 14-24 tahun sebanyak 61,1%.

















BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
             Dalam kehidupan masyarakat terlihat jelas bagaimana persamaan dan perbedaan remaja zaman dulu dan zaman sekarang yang dilihat dari faktor lingkungan dan faktor sosialisasi. Perbedaan dapat dilihat juga dari kebudayaan antara remaja zaman dulu dan zaman sekarang. Oleh karena itu, kita juga perlu tahu bagaimana karakteristik remaja zaman dulu dan zaman sekarang sehingga terlihat jelas perbedaannya. Melalui karakteristik tersebut, kita dapat mengetahui bahwa remaja zaman dulu memiliki ciri khas yang berbeda dengan remaja zaman sekarang. Agar mahasiswa dapat mengerti bahwa ada karakteristik yang baik dari remaja zaman dulu yang dapat ditiru.

B.     Saran
-          Marilah kita sebagai mahasiswa yang baik kita diharapkan untuk bisa meniru hal-hal baik dari kehidupan remaja zaman dulu.
-          Perlu adanya kesadaran dari masing-masing pribadi agar kehidupan kita lebih layak untuk dipandang orang baik melalui perkataan, sikap, maupun perbuatan,







DAFTAR PUSTAKA

Simanjuntak, Julianto. 2009. 9 Masalah Utama Remaja. Tangerang: Yayasan Peduli Konseling Indonesia (YAPKI)
http://id.wikipedia.org/wiki/kehidupan remaja zaman dulu dan zaman sekarang